Nyanyian Burung Kala Itu Bagian 3


Hari ini hari ke 3 aku tidak masuk kantor setelah Angga memutuskan hubungannya denganku. Tubuh ini lemas serasa tak bertulang. Otak ini seakan dijalankan oleh mesin yang selalu memutar memoriku tentang Angga. Pipi ini tak henti-hentinya dibasahi oleh air mata yang jatuh. Tio selalu mencoba menghiburku tiap hari. Mama selalu memberikan pelukan hangat dan semangatnya untukku. Keesokan harinya aku mulai memberanikan diri untuk pergi ke kantor. Kupakai kacamata untuk menutupi mataku yang sembab ini. Tukang ojekku alias Tio sudah siap dengan motor bebeknya di depan rumahku. Sesampainya di depan kantor Tio mencoba meyakinkanku lagi. “Yakin udah siap ngantor?” tanya Tio. “Udah” jawabku singkat.”Nanti kalo ada apa-apa telfon ya. Nanti gue jemput lo.” kata Tio. Aku pun berlalu begitu saja dan menghiraukan Tio.

“Sudah sehat Ra?” tanya Wina teman kantorku.

“Alhamdulillah lebih baik.” jawabku.

Kunyalakan komputer kantor seketika itu air mata ini jatuh saat kulihat foto di desktop komputerku adalah fotoku bersama Angga. Aku langsung mengusap air mataku seraya aku mengganti tampilan desktopku. Kubuka file-file kerjaanku tapi aku tidak mengerti apa yang akan aku kerjakan. Tiga hari itu perlahan menghapus memoriku akan pekerjaanku. Wina pun mengajariku dengan sabar. Namun pikiranku tidak bisa diajak bekerja sama. Entah kenapa sosok Angga selalu memenuhi pikiranku. Bahuku pun mulai bergetar. Isak tangisku mulai terdengar oleh penghuni ruangan ini. Satu per satu teman kantorku mengerubungiku. Suasana ruangan berubah yang tadinya hanya terdengar suara hentakan jari-jari pada keyboard menjadi gemuruh suara-suara manusia yang menayakan keadaanku.Wina mencoba menenangkanku dalam pelukannya.

“Pulang aja Ra kalo masih belum kuat ga usah dipaksain.” nasihat Wina.

“Iya lebih baik kamu pulang Ra. Senin atau Selasa nanti baru masuk kantor lagi. Nanti saya yang infokan ke HRD.” kata Bu Shinta manajerku.

“Aku minta Pak Udin buat nganter kamu pulang ya Ra.” kata Wina.

“Ga usah, aku telfon Tio aja biar dia yang jemput kebetulan dia sedang cuti.” jawabku.

30 menit kemudian Tio sudah berada di depan kantorku.“Pegangan yang kenceng Ra.” kata Tio.

“Iya udah nih.” kataku.

Tio tidak langsung mengantarkanku pulang ke rumah. Dia menghentikan motornya di taman komplek rumahku. “Ra, lo ga boleh terus-terusan kaya gini. Boleh sedih tapi jangan sampe berlarut-larut kaya gini. Lo ga kasihan sama badan lo tuh yang makin kecil. Lo ga kasihan liat nyokap lo yang nangis pas liat anaknya nangis. Ayo perlahan move on Ra, sedikit demi sedikit pasti bisa. Waktu itu lo pernah nyemangatin gue kan pas gue putus sama Keyza.” cerocos Tio panjang.” Aku hanya terdiam, tatapanku kosong. “Iya gue coba, thanks ya.” kataku.

11 bulan kemudian

Bayangan Angga masih saja menghampiriku. Aku belum sepenuhnya move on dari Angga. Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarku. “Ra, sudah tidur belum?” tanya Mama dari luar pintu kamar.”Belum, masuk aja Ma.” jawabku. “Tadi pagi ada yang mengantarkan undangan untuk kamu. Ini undangannya.” kata Mama sambil memberikan undangan.”Yang sabar ya Nak.” kata Mama seraya memeluk dan mengusap kepalaku.

Tersentak aku saat melihat nama mempelai yang akan menikah adalah Angga. Seorang pria yang sampai saat ini masih singgah dihatiku. Rupanya dia akan menikah dengan Prahita. Seorang wanita rekan kerja 1 kantornya yang saat itu berada di Ausie bersamanya. Aku menarik nafas panjang sambil menahan air mata yang hendak jatuh. Aku tidak ingin mama melihat air mata ini jatuh.

Kupinta Tio untuk menemaniku menghadiri resepsi pernikahan Angga. “Angga, selamat ya.”ucapku dengan mata berkaca-kaca. Kami berdua saling menatap dalam beberapa detik. “Makasih, Ra.”jawab Angga. Aku pun berlalu meninggalkan pelaminan dan air mataku jatuh. “Harusnya aku yang bersanding bersama Angga di pelaminan.”kataku dalam hati. Teringaku akan  kata-kata

Angga yang akan meminangku setelah dia kembali dari Ausie.

“Udah jangan nangis, nih tisunya.” Tiba-tiba saja suara seseorang mengagetkanku.

Ternyata sosok Tio sudah berada tepat disampingku. Tio berhasil menarikku keluar dari ruang nostalgia. “Kok, lo ada disini?” tanyaku heran. “Iya, tadi nyokap lo nyuruh gue nyusulin lo kesini.” jawab Tio. “Mau sampai kapan Ra, lo kaya gini?” tanya Tio.”Masih banyak orang yang sayang sama lo, mereka khawatir liat keadaan lo yang kaya gini terus-terusan.” cerocos Tio sambil menggenggam tanganku. Aku pun melepaskan tanganku dari genggaman tangan Tio dan menariknya pergi dari istana burung.

“Eh eh, mau kemana sih gue belom selesai ngomong.”ujar Tio.“Gue mau ke Toilet, mau cuci muka gue dan nutupin mata gue yang sembab ini. Gue ga mau nyokap gue sedih.” kataku seraya meninggalkan istana burung. “Nah gitu dong Ra.” kata Tio sambil merangkulku.

Nyanyian Burung Kala itu Bagian 2


Minggu, 16 Januari 2011

Hubunganku dan Angga sudah berjalan 1 tahun. Pukul 10.00 pagi Angga sudah berada di ruang tamu rumahku. Aku kaget karena Angga tidak memberitahuku kalau dia ingin berkunjung ke rumah.

“Kok ga bilang kalau mau ke rumah?” tanyaku heran.

“Ada yang mau aku omongin Ra.” jawab Angga.

“Omongin apa serius banget kayanya?” tanyaku lagi.

Angga langsung meraih kedua tanganku.

“Aku seneng banget Ra bisa jalanin hari-hariku 1 tahun ini sama kamu.” kata Angga.

“Aku juga seneng banget, hari ini kita genap 1 tahun ya. Kamu cuma mau ngomong itu aja?” tanyaku.

“Kamu janji ga akan sedih ya setelah mendegar semuanya.”pinta Angga.

“Sedih? Kamu mau ngomong apa sih? Jangan buat aku bingung.” kataku heran.

“Ra, sebenarnya 2 bulan lalu aku mendapatkan info bahwa per hari ini aku akan ditugaskan di luar Jakarta untuk proyek baru.” jelas Angga.

“Ya gpp, itu kan bagus buat karirmu ke depan.” kataku menyemangati Angga.

“Tapi perusahaan konstruksi itu berlokasi di Australia dan aku beserta rekan kerjaku yang lain akan dikirim kesana.” Jelas Angga lagi.

“Ausie? Berapa lama?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca.

“Kurang lebih 2 tahun, tadi katanya janji ga sedih.” kata Angga sambil mengusap air mata yang telah membasahi pipiku.

Mama yang kaget mendengar suara tangisku langsung menghampiri kami di ruang tamu.

“Ra, kamu kenapa nangis? Angga, si Rara kenapa?” tanya Mamaku heran.

“Angga, mau tugas ke Ausie Ma.” jawabku dengan suara terputus-terputus. Tangan Angga tak hentinya mengelus rambutku untuk menenangkanku.

“Kamu kapan berangkat ke Ausie nya ?” tanya mama.

“Nanti sore jam 15.15 tante, sekalian aku mau minta izin boleh ga Aku ajak Rara untuk nganterin aku ke bandara ada?” tanya Angga.

“Iya Rara boleh ikut ke bandara.” jawab Mama. Mama langsung menghampiriku dan mengusap air mataku. “Sudah sayang jangan nangis lagi, ini kan demi masa depan Angga.” mama mencoba untuk menenangkanku.

Pukul 13.10 kami sampai di bandara Soeta. Tanganku selalu dalam genggaman Angga. Kusandarkan kepalaku dibahunya dan air mataku terserap sempurna ke dalam kaos biru yang dikenakan oleh Angga. Sudah saatnya Angga bersiap-siap menuju pesawat yang akan mengantarkannya ke Ausie. Berat rasanya melepaskan genggaman ini. Angga pun berpamitan kepada kedua orang tuanya.

“Ra, jaga diri kamu baik-baik ya, jangan lupa sholat, makannya yang teratur.” pesan Angga.

Lidahku kelu, tak ada satu kata yang keluar dari mulutku. Bahuku bergetar, suara isak tangisku makin kencang. Angga pun langsung memelukku erat. “Tungu aku ya Ra, aku akan meminangmu setelah aku kembali.” kata Angga. Setelah mendaratkan sebuah kecupan manis di keningku, Angga pun berlalu meninggalkanku dan orang tuanya.

Hari-hariku terasa berbeda setelah keberangkatan Angga meskipun komunikasi rutin kami lakukan via skype. Rutinitas berkunjung ke istana burung terpaksa kulakukan seorang diri, sangat berbeda rasanya. 1 bulan menjelang hari jadi hubungan kami yang ke 2 tahun, Angga mulai sulit dihubungi. Kukirimkan pesan melalui skype dan ym namun tak ada balasan. Kucoba menelfon, tetapi tidak ada jawaban. Aku pun mulai gelisah. “Apakah Angga menemukan tambatan hatinya yang lain?” tanyaku dalam hati. Apa Angga sudah lelah dengan hubungan jarak jauh seperti ini?” tanyaku lagi.

Senin, 16 Januari 2012

“Ra, aku mau nelfon kamu via skype. Aku tunggu ya.” pesan dari Angga.

Kebetulan sepulang kerja aku mampir ke rumah Tio sahabatku dari SMP. “Tio, gue pinjem laptop lo dong, ada wifi kan?” tanyaku.

“Ada, mau ngapain sih lo buru-buru gitu?” tanya Tio.

“Mau online skype, si Angga mau nelfon.” jawabku

Senang rasanya bisa melihat wajah Angga yang manis itu. Percakapan sudah berlangsung selama 30 menit. Dalam menit ke 35 Angga mengatakan kata-kata yang tidak bisa aku percaya. Kata-kata yang membuat air mata ini jatuh membasahi pipiku. Tio pun langsung memelukku yang sedang terisak-isak dalam tangis. “Hari ini hubungan gue sama dia tepat 2 tahun, gue kira dia bakalan ngucapin selamat tapi nyatanya dia malah menyerah dengan hubungan ini.” kataku. Tio masih memelukku erat lalu mengusap air mataku. “Sabar Ra, gue tau ini sakit banget. Pasti bakal ada pelangi kok Ra setelah hujan.” Tio mencoba menenangkan lalu mengantarkanku pulang.

Nyanyian Burung Kala Itu


Sabtu, 23 Februari 2013

“Ma, Aku pergi ke Ragunan dulu ya.” izinku kepada Mama.

“Udah kuat emangnya ke Ragunan sendirian?” tanya Mama khawatir. Sambil membelai rambutku.

“InsyaAllah kuat Ma. Aku kangen sama alunan kicauan burung yang indah itu Ma. Ini kan jadwalku kesana sesuai ketentuan dari Mama.” kataku memelas.

“Mama ga mau liat kamu pulang dengan mata sembab ya.” kecam mama.

“Iya Ma,” jawabku.

Kekhawatiran mama memang sangat wajar. Karena 2 bulan yang lalu mataku sembab sepulang dari Ragunan.“Semoga saja mataku tak akan sembab lagi nanti.” gumamku dalam hati.

30 menit kemudian.

“Ragunan”
“Ragunan”
“Ragunan”
Kopaja yang aku tumpangi sudah mendarat di terminal ragunan. Aku pun bergegas turun dan melangkahkan kakiku ke depan loket pembelian karcis.
“Karcis 1 mas untuk dewasa.” kataku.

“Eh,Mba Rara baru keliatan lagi nih. Kemana aja Mba?” tanya petugas loket.
“Ga kemana-mana kok Mas. Mas Agus kangen sama aku ya?” ledekku.
“Ah, si Mba Rara ini bisa aja.” kata Mas Agus dengan logat Jawanya yang medok.

Ini Mas uangnya, udah banyak yang ngantri di belakangku nih.” kataku sambil menyerahkan uang.

“Makasih Mba.” kata Mas Agus.

“Sama-sama Mas.” jawabku.

Mas Agus adalah seorang petugas loket kebun binatang sekaligus mantan tukang ojekku dulu.

Seakan ada magnet yang menarik bibirku dan menghasilkan secarik senyuman yang indah ketika aku memasuki kebun binatang ini. “Akhirnya aku menginjakkan kakiku disini lagi.” ucapku dalam hati. Kupercepat langkahku menuju istana burung untuk berjumpa dengan burung-burung cantik ciptaan Allah. Kedatanganku disambut baik dengan sautan kicauan burung yang selama ini aku rindukan.

“Thanks God, I can hear this voice again.”

Aku pun langsung mengunjungi satu per satu burung yang ada di istana ini. Setelah mengelilingi istana ini untuk menyapa satu per satu penghuninya, aku langsung memilih satu kursi tepat di tengah – tengah istana ini. Kedua bola mata ini tak henti-hentinya mengelilingi seluruh sudut istana ini. Dan kedua daun telinga ini selalu terpasang untuk mendengarkan alunan indah kicauan burung.
Perlahan kedua mata ini tertutup dan seketika kedua daun telinga ini tidak mendegar suara-suara manusia, yang terdengar hanyalah nada-nada indah yang keluar dari kicauan burung. Atmosfer kedamaian dan kenyamanan menyelimutiku. Semilir angin yang berhembus membawa aku ke dalam ruang nostalgia. Teringat akan sesosok pria berkulit hitam manis, berkacamata, dan memiliki postur tubuh yang proporsional yang telah membawaku masuk ke istana burung ini. Pria itu bernama Angga. Angga seorang pria yang pernah menghiasi hariku dengan percikan-percikan cinta. Angga seorang pria yang telah membisikkan kata ” I Love You” ke telingaku di tempat ini diiringi suara kicauan burung tepat pada hari Sabtu, 16 Januari 2010. Seketika jantungku ini berdetak lebih cepat ketika mendengar bisikan itu dan perlahan kuberanikan untuk membuka kedua mataku.

“Angga” kataku sambil menatap dalam mata Angga. Lalu Angga langsung meraih kedua tanganku dengan lembut dan menatapku tajam.
“Aku cinta Rara yang bawel, aku cinta Rara yang imut, aku cinta Rara yang susah makan, aku cinta Rara yang ga bisa mengendarai motor.” ucap Angga.
“Nyebelin kamu ya.” kataku sambil mencubit kecil perut Angga.
“Auuu, sakit tau Ra.” Angga mengaduh pura-pura kesakitan. Dia pun kembali meraih tanganku yang terlepas dari genggaman tangannya. Dan kembali menatapku tajam.

“Angga, makasih ya kamu udah bawa aku ke istana burung ini. Aku cinta banget sama tempat ini. Tempat yang berselimut kedamaian dan kenyamanan. Dan aku lebih cinta sama orang yang udah bawa aku kesini.”

“I love you too Angga.” jawabku malu-malu.

“Ih pipi kamu merah.” ledek Angga.

“Engga yee, apasih kamu.” aku mengelak.

Judulnya sih terjebak dalam friend zone :D


“Tak tik tak tik tak tik”

Begitulah suara yang memenuhi ruangan kantorku siang ini. Tiba-tiba suara hentakan jari-jari pada keyboard komputer tak terdengar sesaat dan secarik senyuman indah menghiasi wajahku saat mendapati bahwa Arya mengirimkan pesan via skype kepadaku.

“Ra, aku belum dapet buku analisis laporan keuangan nih, cari dimana lagi ya?” tanya Arya via skype.
“Di Blok M Square mungkin ada, mau beli bareng ga? Aku juga belom beli.” balasku.
“Oh yaudah, nanti kamu ke kantor aku ya deket kan dari kantormu ke kantorku, nanti dari kantor aku baru kita ke Blok M.” balas Arya.
“Oke deh, sampai ketemu nanti ya.” balasku lagi.
Arya adalah pria yang sangat dekat denganku. Statusnya hanyalah sahabat terbaikku. Kami dipertemukan di sebuah kantor 2 tahun lalu.
Pukul 17.30
Aku langsung meluncur ke kantor Arya dengan menumpangi kopaja. Setelah menikmati kemacetan dan berdempet-dempetan di dalam kopaja sampailah aku di depan kantor Arya.
“Aryaaaaa” teriakku.
“Hey Rara, yuk ambil motorku dulu.“ ajak Arya.
“Dimana emangnya kamu parkirnya?“ tanyaku.
“Tuh disebrang sana. Yuk nyebrang, hati-hati Ra.” kata Arya sambil mengulurkan tangannya.
“Iya iya” jawabku gugup sambil meraih tangan Arya.

Jantung ini berdetak lebih cepat, ketika jari-jari ini menyentuh jari-jari Arya. Aku selalu merasa nyaman ketika bersamanya. Kekagumanku pada Arya terus mengalir, sejak pertama kali aku mengenalnya sampai dengan detik ini. Aku kira ini hanyalah rasa kagum biasa, tapi ternyata tidak. Keinginan untuk memiliki Arya sebagai seorang kekasih terbesit dalam pikiranku. Tapi sulit rasanya mengutarakan perasaan ini.
“Nih, pake helmnya Ra.” tiba-tiba suara Arya membangunkanku dari lamunan.
“Iya iya.” Aku pun langsung menaiki motor Arya dan menepuk pundak Arya memberikan aba-aba untuk segera jalan.

………………………

Sesampainya di blok M kami pun langsung mendatangi mushola untuk menunaikan kewajiban kami. Kami beranjak dari mushola menuju toko buku yang kami tuju.
“Bang, ada buku analisis laporan keuangan ga?” tanyaku.
“Pengarangnya siapa?” tanya balik si penjual.
“Nih bang” kata Arya sambil menunjukkan foto buku yang ada di handphonenya.
“Sebentar saya cari dulu ya.” jawab si penjual.
5 menit kemudian
“Yah Mba cuma ada 1 nih bukunya, kalo mau besok ada lagi bukunya.” kata si penjual.
“Yah, gimana dong Arya?” tanyaku.
“Yaudah buat kamu aja Ra, bsk aku kesini lagi.” jawab Arya dengan lembut.
Kami pun meninggalkan toko buku dan hendak pulang.
“Ra, ke blok M plaza dulu yuk, aku mau makan.” kata Arya sambil mengelus perutnya yang keroncongan.
“Hahaha kamu kelaperan ya? Hmm yuk makan dulu.” jawabku.

Semburat cahaya kuning lampu jalan menemani perjalanan kami dari Blok M Square menuju Blok M Plaza.
“Tin Tin Tiiiiiiin”
Suara klakson mobil mengagetkan kami yang sedang berjalan.
“Ya Ampuuuuun itu mobil nyebelin.” kataku kesal.
“Ra, salah jalan kamu. Kamu harusnya disini.” kata Arya sambil berpindah posisi.
“Eh iya ya.” kataku.
“Ya ampun, lo perhatian banget sih.“ gumamku dalam hati sambil mencuri pandanganku ke Arya.

Dinding bercat merah dengan cahaya kuning lampu restoran tempat kami makan membuat suasana menjadi romantis.Perbincangan hangat pun terjadi antara aku dan Arya disela-sela waktu makan malam kami. Sesekali aku memandangi wajah Arya dan membuang pandanganku ketika Arya mendapati aku sedang memandanginya. “Coba status kita pacaran bukan sahabat kaya gini, pasti tambah romantis nih.” ucapku dalam hati.

Malam semakin larut, kami pun bergegas meninggalkan ruangan bercat merah itu. Sesekali Arya mengajakku ngobrol selama perjalanan pulang. Alhasil, ku sandarkan kepalaku ke pundak Arya untuk mendengarkan suaranya yang kurang jelas karena berbarengan oleh sautan klakson kendaraan dan kabur terseret angin malam.

“Oh Aryaaa ingin sekali ku bisikkan, aku suka kamu melebihi seorang sahabat.” harapku dalam hati.

 Sebenernya sih ga sengaja nemuin naskah cerita mini gue yang satu pas gue mau nyimpen file surat kerjaan bokap gue. Pas baca cengar-cengir sendiri. Keadaan gue sama dia udah berubah total dari cerita ini. Yaaa bisa dibilang kaya temenan biasa aja, bukan sahabatan lagi. Wong pada sibuk sama dunianya masing-masing. Sedih sih pasti, tapi apa boleh buat.

Kamu


Kamu sesosok pria yang memiliki sebuah nama, tapi entah mengapa sulit rasanya menuliskan namamu disetiap kalimat-kalimat yang teruntai untukmu. Kamu yang rela menghabiskan waktumu untuk menemaniku membeli keperluanku. Kamu yang menggandeng tanganku ketika menyebrang jalan. Kamu yang langsung berpindah posisi ketika kita salah posisi saat berjalan. Kamu yang mengambilkan piring dan sendok ketika kita hendak makan dalam sebuah acara resepsi pernikahan. Kamu yang panik ketika mobilmu hampir mogok ditengah malam yang sedang diguyur hujan. Kamu yang pernah bilang gerogi saat kita foto bareng. Kamu yang pernah menanyakan sebuah pertanyaan pengandaian yang sempat membuatku kepedean. Kamu yang sopannya luar biasa. Kamu yang baiknya luar biasa. Kamu, pria yang aku kagumi sejak 1 tahun lalu. Mungkin sebagian orang yang membaca ini tau, kamu yang aku maksud ya kamu. Tapi entah, kamu tau atau tidak bahwa kamu yang aku maksud ya kamu. Dan aku tidak tau kamu akan baca postinganku ini atau tidak. Jikalau kamu membaca dan bisa menarik kesimpulan dari postinganku ini, aku harap hubungan aku dan kamu akan tetap baik-baik saja.

Too late


Dirinya mencoba mendekatiku saat usiaku belasan tahun lebih tepatnya 19 tahun. Namun, kala itu pola pikirku masih sangat-sangat jauh dari kedewasaan. Aku hanya menganggapnya tak lebih dari seorang seniorku. Kala itu semakin dia mendekati, aku malah semakin menjauh. Beberapa waktu lalu kami berkomunikasi kembali. Tak banyak yang berubah dari sosoknya. Yang kurasa memang dia semakin dewasa. Dan yang kurasa memang dia sangat mengayomi (polisi kalii mengayomi masyarakat). Banyak hal-hal yang diajarkan, membuat pola pikirku makin dewasa. Yap, kini aku sadar dia memang sosok pria baik (idaman). Namun apa daya, telat sudah ku menyadari ini semua.

Teknik oh teknik


Teknik? Arrrghh entah kenapa dalam beberapa waktu belakangan ini gue dipertemukan dengan beberapa anak teknik. Tapi dipertemukannya dalam keadaan yang sangat tidak pas menurut gue (oh mamaa). Gue jadi ketakutan sendiri gini kalo deket sama anak teknik. Oh mamaa pria yang di kantin itu anak teknik atau bukan yaa??? -_______-